Rabu, 11 Oktober 2017

    Pekerja Proyek Apartemen Tewas Tertimpa Batu Bata


    BANDUNG - Seorang pekerja di proyek Apartemen Pasteur Gateway, Jalan Gunung Batu, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Cicendo, tewas. Pekerja itu tewas setelah tertimpa sebuah batu bata yang jatuh dari lantai 12.

    Korban diketahui bernama Aang (58). Pria warga Jalan Marga Mulya, RT 1/1, Kelurahan Cimahi, Kecamatan Cimahi Tengah ini sebelumnya sempat di bawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), tetapi nyawa korban tidak bisa tertolong.

    "Kejadiannya sekitar pukul 11.00. Korban ketika itu berada di lantai dasar," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polrestabes Bandung AKBP Mokhamad Ngajib kepada wartawan, Selasa (7/10/2014).

    Menurut Ngajib, batu bata tersebut jatuh tepat menimpa kepala bagian atas korban, yang kemudian korban dibawa ke RSHS. Namun sayang nyawa korban tak tertolong, korban meninggal ketika sampai di RSHS. "Kami melakukan olah tempat kejadian perkara untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya," tuturnya.

    Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Cicendo AKP Gatot Satya mengatakan, pihaknya tengah memeriksa beberapa saksi terkait kecelakaan kerja tersebut. "Di antaranya beberapa pekerja yang saat itu berdekatan dengan korban dan pekerja yang berada di lantai 12. Tidak hanya itu pihak dari PP sebagai kontraktornya pun dilakukan pemeriksaan jadi total seluruhnya ada enam orang," katanya.

    Guna kepentingan penyelidikan, polisi memasang garis polisi di tempat kejadian. "Agar penyelidikan tidak terganggu, kami pasang garis polisi di lokasi tersebut.," katanya, seraya menambahkan, pihaknya telah mengamankan barang bukti berupa bongkahan batu.


    sindonews.com

    Rabu, 04 Oktober 2017

    Cara Pemasangan Batu Bata yang benar

    1. Mempersiapkan bahan-bahan utama
    Pertama kalinya anda harus mempersiapkan batu bata, pasir, semen, air, cangkul, benang tukang, sendok semen, paku, air dan ember.
    1. Campur dulu pasir dan semen dengan benar
    Gunakan campuran antara pasir dan semen yang sesuai dengan kebutuhan anda. Jika pencampuran kedua material ini terlalu banyak digunakan akan terbuang sia-sia karena akan mengeras. Perbandingan pasir dan semen yang harus anda campur adalah 4 : 1. Perbandingan ini akan menghasilkan kombinasi yang kuat. Aduklah kedua material ini sampai merata. Kualitas campuran semen dan pasir yang merata biasanya ditandai dengan semakin sedikitnya buih-buih yang ada pada campuran tersebut.
    1. Lakukan pengukuran pada area yang ingin dipasang batu bata
    Pemasangan batu bata bisa berjalan dengan akurat apabila anda melakukan pengukuran terlebih dahulu pada area yang dituju. Biasanya para tukang akan memberikan tanda pada setiap pojok dinding dengan menancapkan besi penyangga. Selain itu anda juga boleh mempersiapkan benang tukang, paku dan palu dalam langkah ini. Benang yang anda siapkan harus anda tarik secara vertikal dan horizontal untuk memastikan bahwa batu bata yang dipasang nantinya tidak miring.
    1. Mulailah pemasangan
    Tempatkan campuran pasir dan semen yang telah anda aduk di area yang sudah anda pasangi benang. Biasanya ketinggian dan tebal semen yang baik untuk anda taruh itu setebal 2 sentimeter. Setelah itu letakkan batu bata ke atas semen yang telah anda letakkan.
    Pasang dalam posisi horizontal. Lalu letakkan lagi campuran semen dan pasir yang telah anda aduk dan kali ini letakkan diatas batu bata yang telah dipasang. Lakukan dengan ketebalan yang sama. Lanjutkan begitu seterusnya.
    Trik pemasangan batu bata yang benar adalah dengan meletakkan batu bata dengan posisi zig-zag agar semen dan batu bata saling mengikat satu sama lain. Ini adalah hal yang sangat krusial dalam pemasangan batu bata. Jika anda memasangnya dengan cara sejajar maka tembok yang anda buat tidak akan kuat ketahanannya.

    Rabu, 12 April 2017


    Dinding Batu Bata Terekspos dan Cara Finishing-nya

    Membiarkan dinding rumah tanpa plester, sehingga susunan batu bata tampak jelas, telah menjadi salah satu gaya tersendiri untuk memperindah tampilan interior maupun eksterior rumah. Semakin hari, semakin banyak peminat dari dinding dengan batu expose, demikian umumnya mereka menyebutnya. Untuk menjadikan tampilan yang lebih menarik, dinding batu expose harus direncanakan sejak awal dan dapat ditindaklanjuti dengan finishing tertentu.
    Sebagai contohnya adalah dengan menyusun batu bata secara rapat, sehingga garis spasi (siar) tidak tampak. Untuk mendapatkan dinding batu bata terekspos tanpa siar, diperlukan batu bata dengan ukuran yang presisi dan memiliki tekstur yang halus. Batu bata yang digunakan umunya adalah batu bata produksi pabrik yang pengolahan dan pembuatannya menggunakan mesin, sehingga ukuran dan bentuk batu bata yang dihasilkan sama. Disamping itu, hendaknya dipilih perekat dengan kualitas terbaik. Dalam proses pemasangan batu bata, hanya digunakan perekat dalam jumlah yang sedikit. Hal ini berkaitan dengan tujuan awal, bahwa siar antara batu bata dibuat sangat tipis atau hampir tidak terlihat. Pemilihan bahan perekat yang terbaik, ditujukan untuk mendapatkan daya rekat yang kuat, meskipun bahan yang digunakan sebagai perekat berjumlah minimal.




    Beberapa orang justru menyukai batu bata konvensional, diaplikasikan sebagai dinding dengan batu bata terekspos. Batu bata yang dibuat secara manual, memiliki ukuran yang kurang presisi (beragam) jika dibandingkan batu bata produksi pabrik modern (pembuatan dengan mesin). Proses pemasangan pada batu bata konvensional, dapat dilakukan seperti biasa, seperti halnya menyusun batu bata untuk keperluan dinding dengan plester. Hanya saja, usahakan memilih batu bata yang berukuran seragam. Dan pastikan bahwa batu bata yang akan dipasang masih utuh (tidak retak ataupun pecah), sehingga hasil akhirnya akan terlihat bagus.
    Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemasangan batu bata konvensional adalah jarak nat. Usahakan untuk menyamakan lebar semua nat (baik vertikal maupun horizontal). Gunakan bahan perekat (adukan) yang tidak terlalu kasar, dengan cara menggunakan pasir yang bersih tanpa kerikil atau butiran pasir besar (gunakan ayakan dengan ukuran lubang yang kecil).
    Disamping memperhatikan proses pemasangan, Anda bisa memlakukan finishing pada batu bata yang telah terpasang. Untuk penggunaan batu expose pada luar ruangan, pastikan memberikan coating anti jamur dan lumut. Anda juga bisa mengecat batu bata tersebut dengan warna tertentu sebagai variasi penampilan.
    Solusi lain jika Anda menginginkan dinding dengan batu bata terekspos, tetapi Anda terlanjur memiliki dinding dengan plester adalah dengan menggunakan batu bata tempelan. Ukuran dari batu bata templean ini ada yang lebih besar, maupun lebih kecil dari batu bata biasa. Adapun teknik pemasangan batu bata tempelan sangat mirip dengan teknik pemasangan keramik. Batu bata tempelan ini pun ada dua macam, yaitu hasil produksi konvensional dan hasil produksi pabrik modern. Perbedaannya terletak pada bahan pembuatan dan sifat ukuran batu batanya.
    Batu bata produksi pengrajin umumnya dibuat dengan bahan tanah liat, semen dan pasir. Batu bata templean yang dihasilkan pun tidak memiliki ukuran yang presisi. Berbeda dengan batu bata tempelan produksi pabrik modern yang memiliki ukuran seragam dan presisi. Pabrik modern umunya menggunakan bahan terakota untuk memproduksi batu bata tempelan. Karena sifatnya yang memiliki ukuran seragam dan presisi itu, jika diaplikasikan batu bata tempelan produksi pabrik modern justru akan terlihat terlalu rapi. Dan kesan alami yang timbul dari susunan batu bata kurang terlihat. Oleh karena itu, kebanyakan peminat dinding batu bata terekspos justru lebih memilih batu bata tempelan produksi pengrajin.
    Solusi penggunaan batu bata tempelan ini sangat cocok jika Anda ingin melakukan perubahan gaya, dari dinding berplester. Artinya, Anda tidak perlu mengelupas plester dinding rumah Anda untuk mendapatkan penampilan baru berupa batu bata ekspos. Tetapi jika Anda menginginkan dinding baru, maka perencanaan sejak awal bisa dilakukan, dengan memperhatikan proses pemasangan batu bata agar lebih rapi, dan tidak mengaplikasikan plesteran pada dinding.

    Senin, 14 November 2016

    Deni Jadi Buruh Batu Bata untuk Bantu Keluarga

    PARIK MALINTANG – Agar punya uang jajan, Syafrita Deni, pelajar SMAN 1 Nan Sabaris, setiap hari Minggu memilih jadi buruh. Dia melakukan hal itu karena tidak tega melihat ibunya yang menjanda sejak ditinggal pergi sang ayah, membanting tulang untuk menafkahi mereka yang lima bersaudara.
    Syarita Deni yang akrab dipanggil Deni adalah anak bungsu. Dia sudah terbiasa menjadi buruh di perusahaan batu bata sejak kelas dua SMP dan, sekarang dia sudah duduk di bangku SMA. “Kalau tidak ikut bekerja, maka kita ada uang buat jajan,” kata gadis itu ketika ditemui Singgalang, baru-baru ini.
    Oleh karena sudah terlatih, Deni, panggilan akrab Syarita Deni, bisa mencetak 1.000 bua batu bata. Setiap satu batu bata yang dia cetak dia dapat upah Rp40. Jadi, kalau 1.000 bata berarti dapat Rp4o ribu sehari. Itulah buat jajannya selama sepekan.
    Syafrita Deni mencetak batu bata di perusahaan tempat dimana ibunya, Risnawati, bekerja sebagai buruh, yaitu pada salah satu perusahaan batu bata di Korong Kampuang Ladang, Nagari Kurai Taji, Kecamatan Nan Sabaris. Tidak jauh dari tempat tinggalnya.
    Pekerjaan sekali seminggu itu dilakoni Deni sejak ayahnya yang berjualan roti keliling berpisah dengan ibunya. “Ya, kasihan ibu yang harus banting tulang untuk menafkahi kami,” ujar anak yang bercita-cita ingin menjadi dosen tersebut.
    Paling tidak, kata Deni, dengan bekerja setiap hari Minggu. Dia tidak perlu lagi meminta jajan sama ibunya. Penghasilan ibu bisa buat memenuhi kebutuhan hidup yang lainnya.  “Ya, buat makan dan pembeli pakaian kami, anak-anaknya,” ujarnya.
    Oleh karena berasal dari keluarga kurang mampu, aku Deni, dia juga mendapat bantuan pakaian seragam dari pihak sekolah. Ada empat stel pakaian sekolah yang dia terima. Pakaian dibelikan pihak sekolah dengan dana bantuan beasiswa dan uang komite.
    Kehidupan keluarga Syarrita Deni memang cukup memprihatinkan. Sejak rumahnya rubuh akibat gempa 2009, sekarang mereka tinggal di rumah Wardina, salah seorang kakaknya. 


    http://hariansinggalang.co.id/

    Jumat, 07 Oktober 2016

    Banyak Orang Rela Antre Beli Batu Bata "Supreme", Apa Istimewanya?

    KOMPAS.com — Kini, rasanya setiap orang akan membeli apa pun asalkan barang tersebut dirilis oleh label ternama atau rumah mode papan atas.
    Harga tak lagi jadi persoalan. Intinya, barang itu harus dimiliki biar terlihat trendi dan keren.
    Salah satu label peralatan skateboarding dan busana olahraga, Supreme, baru saja merilis koleksi terbaru yang sangat tidak biasa, yaitu batu bata.
    Ya, batu bata Supreme ini hadir persis bentuk batu bata pada umumnya.
    Keistimewaannya, hanya ada label Supreme tercetak besar di bagian tengah sebagai diferensiasi dibandingkan batu bata lainnya.
    Hanya dalam hitungan menit, batu bata Supreme langsung ludes dibeli oleh sejumlah netizen lewat situs belanja dan lelang.
    Hal lain yang terbilang luar biasa adalah, ada satu pengguna eBay sampai melelang batu bata Supreme hingga 1.000 dollar AS atau setara dengan Rp 13 juta.
    Tak hanya dijual secara online, batu bata ini juga hadir di butik Supreme yang berlokasi di London, Inggris.
    Kehadiran koleksi aneh tetapi nyata ini bahkan sampai membuat antrean panjang konsumen yang rela berdiri lama di luar butik demi mendapatkannya.


    Dua pemuda Inggris yang berhasil membeli batu bata Supreme, Joshua Sales dan Jim Russel, mengaku sangat bahagia.
    Sales mengatakan kepada Buzzfeed bahwa dia memang pelanggan Supreme, dan batu bata itu akan terlihat keren sebagai aksesori di meja kamar tidurnya.
    Sales mengatakan bahwa dia membeli batu bata Supreme dengan harga 90 poundsterling atau lebih kurang Rp 1,6 juta.

    Kamis, 14 Juli 2016

    Pekerja Proyek Apartemen Tewas Tertimpa Batu Bata

    BANDUNG - Seorang pekerja di proyek Apartemen Pasteur Gateway, Jalan Gunung Batu, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Cicendo, tewas. Pekerja itu tewas setelah tertimpa sebuah batu bata yang jatuh dari lantai 12.

    Korban diketahui bernama Aang (58). Pria warga Jalan Marga Mulya, RT 1/1, Kelurahan Cimahi, Kecamatan Cimahi Tengah ini sebelumnya sempat di bawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), tetapi nyawa korban tidak bisa tertolong.

    "Kejadiannya sekitar pukul 11.00. Korban ketika itu berada di lantai dasar," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polrestabes Bandung AKBP Mokhamad Ngajib kepada wartawan, Selasa (7/10/2014).

    Menurut Ngajib, batu bata tersebut jatuh tepat menimpa kepala bagian atas korban, yang kemudian korban dibawa ke RSHS. Namun sayang nyawa korban tak tertolong, korban meninggal ketika sampai di RSHS. "Kami melakukan olah tempat kejadian perkara untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya," tuturnya.

    Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Cicendo AKP Gatot Satya mengatakan, pihaknya tengah memeriksa beberapa saksi terkait kecelakaan kerja tersebut. "Di antaranya beberapa pekerja yang saat itu berdekatan dengan korban dan pekerja yang berada di lantai 12. Tidak hanya itu pihak dari PP sebagai kontraktornya pun dilakukan pemeriksaan jadi total seluruhnya ada enam orang," katanya.

    Guna kepentingan penyelidikan, polisi memasang garis polisi di tempat kejadian. "Agar penyelidikan tidak terganggu, kami pasang garis polisi di lokasi tersebut.," katanya, seraya menambahkan, pihaknya telah mengamankan barang bukti berupa bongkahan batu.



    sindonews.com

    Minggu, 24 April 2016

    Meneladani Semangat Kartini, Anak Buruh Batu Bata Ini Jadi Polwan

    Meneladani Semangat Kartini, Anak Buruh Batu Bata Ini Jadi Polwan
    MAGELANG - Semangat hidup dan pantang menyerah membuat kehidupan seorang polisi wanita (Polwan) bernama Putri Tanti Rahayu (20), patut dijadikan teladan.
    Polwan berpangkat Bripda ini, menjadi cermin bahwa pangkat maupun profesi tidak dinilai dengan materi.
    Siang itu, terik matahari menyengat tubuh sejumlah polisi yang bertandang ke sebuah rumah berdinding gedheg (anyaman bambu) dan masih berlantai tanah di Dusun Dilem RT 12 RW 3, Desa Kebonrejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang.
    Rumah sederhana itu ternyata milik keluarga Bripda Putri yang sehari-hari bekerja di staff bagian perencanaan Polres Magelang.
    Putri, panggilan akrab polwan tersebut, hidup dengan sederhana dan kurang layak dibandingkan dengan rekan-rekan seprofesinya.
    Ayah Putri, Tobi’i (48) bekerja sebagai buruh batu bata dengan penghasilan tidak menentu. Sementara, ibunya, Mulyanti (45), bekerja sebagai buruh pabrik di Kabupaten Semarang.
    Dengan latar belakang kehidupan yang serba sulit itu, Putri mampu menembus ketatnya persaingan masuk menjadi anggota Korps Bhayangkara ini. Tentu saja, ada rasa takut, minder dan juga cemas akan biaya tinggi di awalnya.
    “Saya tidak menyangka, jika diterima sebagai polisi. Saat itu, meski dalam kondisi serba kekurangan, ibu saya terus mendorong agar saya bisa terus semangat ikut tes masuk menjadi Polwan,” kenang Putri kepada Tribun Jogja, Rabu (20/4/2016).
    Alumni Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Satyapratama Salaman ini, awalnya hanya bercita-cita sebagai buruh pabrik di PT Sanyo, Cimanggis. Dia juga memiliki tekad, saat merantau di luar Jawa Tengah, bisa sembari meneruskan kuliah.
    Kakak sulung dari Dea Tanti Safitri (15), Aqsal Adi Wasiqo (13), Udini Istantina (11) ini, akhirnya memperoleh kabar tentang pembukaan Polwan.
    Dia pun mengubur dalam-dalam impiannya untuk bekerja langsung sembari kuliah. Meskipun, dia juga takut pada polisi saat itu.
    “Saat itu, ada pendaftaran terus mencoba mendaftar online tapi susah satu minggu baru masuk, terus mendapat regristrasi terakhir dari Polres," ujarnya.
    Saat Registrasi Administrasi (Regmin) awal di minggu pertama, Putri sempat minder, karena bertemu sesama pendaftar ternyata persyaratan mereka sudah lengkap.
    Motivasinya pun luntur saat mengetahui masih banyak persyaratan yang belum dilengkapi.
    Putri pun hampir mengambil keputusan agar tidak melanjutkan tes menjadi Polwan. Saat itu, dia mengingat pada tanggal 21 april 2014, hujan abu ringan mengguyur wilayah Kabupaten Magelang.
    “Tiba-tiba, tanpa angin dan hujan, rumah yang kami tempati selama sekian tahun ambruk. Wah, saat itu sudah hampir tidak melanjutkan. Tetapi, setelah sampai rumah ditelepon oleh kepolisian untuk kembali ke Polres. Saya ditunggu sampai pukul 14.30 untuk serahkan kelengkapan berkas, kalau tidak jadi (mendaftar) harus buat pernyataan di atas materai Rp 6000," tuturnya.
    Putri akhirnya memutuskan untuk tetap melanjutkan tes menjadi Polwan. Dia pun akhirnya lolos Regmin dan menjalani pemeriksaan Kesehatan awal di gedung Bayangkara Polda Jateng.
    Kala itu, setiap hari Putri menginap di Ambarawa di tempat kos ibunya hingga lolos tes.
    Namun, Putri sempat khawatir saat akan menjalani tes renang. Dia mengaku kurang mahir berenang dan sudah lupa dengan gaya-gaya berenang karena sudah sangat jarang dipraktekkan.
    Lagi-lagi, ibunya memotivasinya agar dia tetap menjalani tes sampai akhir.
    “Anehnya, saya bisa berenang dengan gaya punggung dan banyak teman saya yang tenggelam, “ tutur Putri yang sempat bersaing dengan 14.700 pendaftar.
    Akhirnya, dia lolos tes dan diterima menjadi Polwan. Putri benar-benar tidak menyangka jika dirinya bisa lolos. Apalagi, dia tidak ditarik uang sepeserpun untuk lolos tes dan sebagainya.
    Padahal, sebelumnya, dia memiliki pandangan jika seseorang yang lolos tes polisi harus memiliki banyak uang.
    “Saya akhirnya mengingat benar nasehat orang tua. Saya benar-benar tak menyangka bisa menjadi seorang polisi dan tanpa harus membayar uang untuk bisa lolos,” katanya.
    Putri pun tergolong sebagai seorang yang pandai, dia sempat meraih nilai 100 di dalam Ujian Nasional (UN) Matematika dan mendapatkan beasiswa dari Pemkab Magelang.
    Saat ini, dia bisa membantu untuk kehidupan dan sekolah tiga adiknya, serta bisa membiayai kuliahnya di Universitas Muhammadiyah Magelang (UMM) jurusan Hukum.
    Tobi’i, ayah Putri mengaku bangga dengan apa yang diraih putrinya ini. Dia juga berharap agar Putri bisa menjalani profesinya dengan jujur, tanggung jawab dan disiplin.Bahkan, dia juga tidak menyangka anak buruh batu bata dengan upah Rp 35 hingga 40 ribu per hari itu bisa menjadi aparat.“Saya hanya doa dan puasa agar anak saya bisa berhasil. Menjunjung derajat orang tuanya dan bisa bekerja dengan tekun,” ujarnya. (Tribunjogja.com)